Ratusan Siswa SMKN 1 Palangka Raya Gelar Doa Bersama: Wujud Keprihatinan Terhadap Negara
PALANGKA RAYA — Ratusan siswa SMK Negeri 1 Palangka Raya mengikuti kegiatan doa bersama lintas agama yang digelar pada Senin 1 September 2025 sore. Kegiatan ini merupakan bagian dari aksi serentak yang diikuti oleh sekitar 97 ribu pelajar di seluruh Kalimantan Tengah, sebagai bentuk keprihatinan terhadap dinamika nasional sekaligus simbol harapan bagi terciptanya ketenangan dan kedamaian di Tanah Air.
Sebanyak 720 siswa SMKN 1 Palangka Raya bersama para guru dan tenaga kependidikan berkumpul di halaman sekolah menjelang jam pulang. Mereka khusyuk memanjatkan doa sesuai agama dan keyakinan masing-masing dalam suasana yang tertib dan penuh kekhidmatan.
Kepala SMKN 1 Palangka Raya, Hj Sri Sundhari, menegaskan bahwa doa bersama tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap bangsa dan negara, serta panggilan moral untuk menjaga persatuan di tengah masyarakat yang majemuk.
“Berdoa bersama ini dalam rangka situasi negara kita yang sedang sedikit terguncang, jadi kita di sini berdoa bersama untuk menjaga agar negara kita tetap aman dan damai, serta segala masalah bisa terselesaikan dengan baik,” ujar Sri Sundhari saat ditemui di sela kegiatan.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut juga mencerminkan nilai-nilai lokal Kalimantan Tengah, khususnya filosofi Huma Betang, yang menekankan pentingnya hidup rukun dalam keberagaman.
Sebagai upaya menjaga ketertiban dan mencegah gangguan dari luar, pihak sekolah memberlakukan kebijakan tegas: seluruh telepon genggam siswa dikumpulkan sejak pagi hari hingga kegiatan berakhir. Langkah ini diambil setelah adanya laporan mengenai penyebaran ajakan demonstrasi melalui media sosial.
“Kebijakan ini dalam rangka kita mengamankan supaya siswa tidak melihat ajakan-ajakan untuk demo. Karena kami ketahui dari Polda Kalteng bahwa ajakan demo itu melalui media sosial,” jelasnya.
Sri Sundhari menyatakan bahwa para siswa memahami dan menerima kebijakan tersebut dengan baik. Sekolah juga melakukan pemantauan ketat terhadap kehadiran dan memastikan koordinasi dengan orang tua berjalan efektif.
“Walau yang tidak hadir karena sakit, orang tuanya harus menginformasikan bahwa anak tersebut tidak ke mana-mana. Kami tidak bertanggung jawab apabila di rumah tidak ada, di sekolah juga tidak ada. Karena di luar sekolah, orang tua yang harus bertanggung jawab,” tegasnya.
Setelah kegiatan doa selesai, siswa diminta untuk langsung pulang dan tidak mendekati kerumunan ataupun lokasi yang berpotensi menjadi titik aksi massa.
“Saya juga melarang mereka menonton apapun namanya, jangan mampir ke situ,” tambahnya.
Sri Sundhari menegaskan, jika situasi keamanan kembali kondusif, jam pulang siswa akan dikembalikan seperti semula.
“Harapan kami kegiatan doa bersama ini dilaksanakan terus menerus. Cuma kalau untuk pulang sore jam 17.00, kita melihat kondisi demo dulu. Apabila sudah aman, mungkin besok akan kembali ke jam normal, yaitu pukul 15.30,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan